|

Single Blog Title

This is a single blog caption
13
Okt

Peran Perempuan dan Pemuda dalam implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme (RAN PE) di Jawa Tengah

Foto : PPID Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah

SEMARANG – Melalui peran pemuda dan perempuan dapat ikut serta dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme di Jawa Tengah, Lembaga PERCIK bekerjasama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah menggelar sarasehan dengan tema “Memaksimalkan Peran Perempuan dan Pemuda, dalam implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme (RAN PE) di Jawa Tengah, pada hari Selasa (12/10).
Kegiatan yang diadakan secara daring dan luring di Aula Cenderawasih Badan Kesbangpol Prov. Jateng menghadirkan Gubernur Jateng (diwakili Kepala Badan Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah/Haerudin, S.H., M.H).; FKPT Jawa Tengah, Dra. Hj. Atiek Surniati, M.Si.; Country Representative AMAN Indonesia, Dwi Ruby Khalifah sebagai narasumber serta dipandu oleh Singgih Nugroho dari lembaga PERCIK.

Dalam sambutan pembuka melalui daring, Direktur Kerjasama Regional dan Multilateral BNPT RI, M. Zaim Al – Kalish Nasution, M.Si mengatakan bahwa kunci dalam menanggulangi teroris adalah sinergi dan kolaborasi yang baik di tingkat pusat dan daerah yang diperkuat dengan Peraturan Presiden  No.7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE). “Sinergi dan kolaborasi, baik tingkat pusat dan daerah menjadi kunci penanggulangan terorisme. Langkah upaya tersebut diperkuat dengan Perpres 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah pada Terorisme  (RAN PE).”,tuturnya.

Sebagai bentuk tindak lanjut perpres tersebut, M. Zaim Al – Kalish Nasution, juga menambahkan bahwa Menteri Dalam Negeri (Mendagri) telah mengeluarkan Surat Edaran kepada Kepala Daerah tentang pencegahan dan penanggulangan terorisme di daerah. Dalam pemaparan pertama disampaikan oleh Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Haerudin, S.H., M.H. dengan judul Peran Pemprov Jawa Tengah Dalam Memaksimalkan Kaum Perempuan dan Kaum Muda Dalam Mensosialisasikan dan Menyusun Kebijakan RAN PE di Provinsi Jawa Tengah,  menjelaskan bahwa radikalisme adalah pekerjaan rumah (PR) bersama karena banyak generasi muda yang menjadi sasaran radikalisme karena sedang mencari figur jati diri. “ini sudah menjad PR kita bahwa kebanyakan generasi muda sekarang ini menjadi sasaran ajaran radikalisme karena mereka sedang mencari jati diri disamping pengaruh medsos. Ketika mereka sedang mencari ini bertemu yang namanya radikal apalagi diberi janji yang menggiurkan, maka terjerumus mereka ke sana.”,tuturnya.

Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam menjaga kondusifitas di Jawa Tengah, Haerudin mengatakan bahwa sinergitas Pemerintah dengan Masyarakat  komitmen dalam upaya pencegahan dini dan deteksi dini dalam menanggulangi tindak terorisme. Dengan sinergitas unsur pemerintah dan masyarakat sebagai upaya cegah dini dan deteksi dini dalam menanggulangi tindak terorisme, Jateng kondusif dapat terwujud. Menurut FKPT Jawa Tengah, Dra. Hj. Atiek Surniati, M.Si, dalam paparannya yang berjudul perspektif FKPT atas Peran Kaum perempuan dan Kaum Muda Dalam Advokasi Implementasi Kebijakan RAN PE di Jawa Tengah, faktor perempuan bergabung dengan terorisme adalah karena rasa perjuangan terhadap agama, rasa kecewa terhadap pemerintah, ekonomi dan perlakuan diskriminatif dari kelompok tertentu. “Faktor perempuan bergabung dengan Terorisme merupakan perjuangan terhadap agama, rasa kecewa terhadap pemerintah, ekonomi dan perlakuan diskriminatif dari kelompok tertentu.” tuturnya.

Dalam paparanya, Atiek Surniati menambahkan bahwa peran perempuan dalam kegiatan terorisme adalah sebagai agen propaganda dan perekrutan yang dimaknai sebagai puncak dari perjuangan yang seharusnya tidak hanya dilakukan oleh laki laki melainkan perempuan oleh pelaku utama.
“Peran perempuan dalam kejahatan terorisme adalah sebagai agen propaganda dan perekrutan. Pelaku utama yang melakukan aksi terorisme dimaknai sebagai puncak dari perjuangan yang seharusnya tidak hanya dilakukan oleh laki laki melainkan perempuan.” tuturnya.
Sebagai bagian dari kewajiban Negara terhadap hak asasi manusia dalam rangka memelihara, Atiek Surniati juga menjelaskan bahwa Perpres RAN PE memiliki tujuan untuk meningkatkan perlindungan hak atas rasa aman warga Negara dari ekstrimisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme. “Ran PE bertujuan untuk meningkatkan perlindungan hak atas rasa aman warga Negara dari ekstrimisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme, sebagai bagian dari pelaksanaan kewajiban Negara terhadap hak asasi manusia dalam rangka memelihara.” Katanya.

Hadir via daring, Country Representative AMAN Indonesia, Dwi Ruby Khalifah memaparkan tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Mengakselerasi Advokat Kebijakan RAN PE di Indonesia dan Jawa Tengah. Dalam paparanya ia mengatakan bahwa dorongan pembuktian dari perempuan jihad, keluarga sebagai basis radikalisme perempuan dan anak, perubahan trend dalam keluarga ekstrimisme serta media sosial yang mendorong perempuan untuk terlibat dalam kelompok ekstrimisme.
“Perempuan terlibat di dalam ekstrimisme karena dorongan pembuktian dari perempuan jihad, keluarga sebagai basis radikalisme perempuan dan anak, perubahan trend dalam keluarga ekstrimisme serta media sosial.” Tuturnya.

Fakta yang menarik juga dikemukakan oleh Dwi Ruby Khalifah bahwa penanganan korban terorisme yang bersifat general, rehabilitasi dan reintegrasi fokus ke mantan napiter masih kurang berdasarkan pangaruh utama gender serta penanganan teroris perempuan di lapas dan gender equality dan women empowerment belum jadi pilar utama. “Pengaruh utama gender masih kurang dalam hal penanganan korban terorisme bersifat general, rehabilitasi dan reintegrasi fokus ke mantan napiter, penanganan teroris perempuan di lapas dan gender equality dan women empowerment belum jadi pilar utama.” tuturnya. Dwi Ruby Khalifah berharap melalui keterwakilan perempuan di dalam posisi strategis, Perempuan tidak sekedar disertakan, tetapi dihadirkan, didengarkan dan diadopsi aspirasinya untuk dijalankan dan menempatkan gender equality dan pemberdayaan perempuan sebagai strategis. “Perempuan tidak sekedar disertakan, tetapi dihadirkan, didengarkan dan diadopsi aspirasinya untuk dijalankan melalui keterwakilan perempuan dalam posisi strategis dan menempatkan gender equality dan pemberdayaan perempuan sebagai strategis.” Tandasnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.