|

Single Blog Title

This is a single blog caption
7
Okt

Moderasi Beragama Strategi Merawat ke Indonesiaan Menghindari Ideologi Alternatif

Foto : PPID Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah

KAB. SEMARANG – Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Haerudin S.H., M.H., pada Rabu (6/10) menjadi narasumber dalam kegiatan Pemahaman Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh UIN Raden Mas Said Surakarta di Hotel Green Valley, Bandungan, Kabupaten Semarang.

Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Mudafir S.Ag., M.Pd; Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan kerjasama UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof Dr. H. Samsul Bakri S.Ag., M.Ag; Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Dr. KH. Ahmad Darodji M.Si; Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Haerudin S.H., M.H.; serta Fuad Hasyim, Dosen UIN Surakarta, selaku moderator.

Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Mudafir, dalam sambutannya mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah ideologi radikal di kalangan mahasiswa. Melalui kegiatan ini diharapkan perguruan tinggi dapat menjadi salah satu tempat untuk mencegah ideologi tersebut.

“Perlunya kegiatan tentang pemahaman terkait bahaya radikal. Di sini adalah tempat para pemuda menimba ilmu terutama yang kurang memiliki pengetahuan agama Islam, rentan terjebak dan terekrut kelompok-kelompok radikal Islam. Maka perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab untuk mencegah ideologi radikal tersebut agar tidak menjangkiti pikiran mahasiswa” tuturnya.

Dalam paparannya, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Haerudin mengatakan bahwa moderasi dalam beragama merupakan hal yang penting sebagai bentuk strategi merawat ke Indonesiaan yang diwariskan oleh pemimpin bangsa untuk menghindari ideologi alternatif yang beredar di internet.

“Moderasi beragama sangat diperlukan sebagai strategi dalam merawat ke-Indonesiaan, sejak dulu pempimpin bangsa sudah mewariskan nilai kenegaraan dan kebangsaan yaitu Pancasila, banyaknya ideologi alternatif melalui media sosial seperti radikalisme, ektremisme, konsumerisme yang harus dihindari.” Tuturnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Tengah, KH. Ahmad Darodji memaparkan bahwa di dalam agama Islam toleransi digambarkan sebagai sikap saling menghormati dan saling kerja sama diantara masyarakat yang berbeda-beda dan hal tersebut nyata di masyarakat Indonesia yang beragam termasuk dalam beragama.

“Toleransi dalam Islam menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama antar kelompok masyarakat yang berbeda-beda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Oleh karena itu toleransi merupakan konsep yang bagus dan mulia. Dengan beragamnya masyarakat Indonesia, dapat dibayangkan betapa beragamnya pendapat, pandangan, keyakinan, dan kepentingan masing-masing warga bangsa, termasuk dalam beragama.” Tuturnya.

Selaras dengan penyampaian dari Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, KH. Ahmad Darodji mengatakan bahwa moderasi beragama sangat penting karena paham eksterisme dan radikalisme dapat merusak sendi keindonesiaan bila dibiarkan.

“Ekstremisme dan radikalisme niscaya akan merusak sendi-sendi ke-Indonesiaan kita jika dibiarkan tumbuh berkembang. Karenanya, moderasi beragama amat penting dijadikan cara pandang.” tegasnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.