Untuk fitur aksesibilitas situs, aktifkan JavaScript. Informasi: UserWay

SEMARANG — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi mengambil peran sebagai aktor yang mampu menghadirkan solusi di tengah dinamika masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Rahmad Winarto, S.H., Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya dan Ormas Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, saat mengisi materi wawasan kebangsaan dalam kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Pra Dasar (LKMM-TPD) Universitas Ivet Semarang. Kegiatan berlangsung pada 26 September 2026 di Universitas Ivet Semarang. 
Mengangkat tema “Generasi yang Memilih Bergerak: Wawasan Kebangsaan di Era VUCA, BANI, AI dan Social Movement”, Rahmad mengajak mahasiswa memahami bahwa perubahan dunia berlangsung semakin cepat. Perkembangan teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, geopolitik, hingga dinamika sosial menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, kolaboratif, sekaligus tetap berpegang pada nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai bagian dari kekuatan perubahan sosial. Namun, perubahan tidak cukup berhenti pada viralitas di media sosial. “Viral menghasilkan perhatian, tetapi perubahan membutuhkan kesadaran, organisasi, aksi dan dampak,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam materi tersebut.
Rahmad juga mengajak mahasiswa dan aktivis kampus membangun gerakan yang dimulai dari persoalan nyata di lingkungan sekitar. Kampus, menurutnya, dapat menjadi laboratorium perubahan melalui proses sederhana: menemukan masalah, mengumpulkan data, membangun kolaborasi, menciptakan solusi, kemudian mengukur dampaknya.

Mengajak Kampus dan Aktivis membangun Kolaborasi
Dalam kesempatan tersebut, Rahmad juga memperkenalkan semangat NGOLABOR — Ngopeni, Nglakoni, Bareng Ormas, sebagai pendekatan kolaboratif Kesbangpol Jawa Tengah dalam membangun ekosistem kerja bersama antara pemerintah, organisasi masyarakat, kampus, komunitas dan berbagai elemen masyarakat.
Semangat NGOLABOR tidak menempatkan pemerintah sebagai satu-satunya aktor penyelesaian persoalan sosial. Pemerintah berperan menguatkan ekosistem, sementara masyarakat, organisasi kemasyarakatan, kampus dan aktivis menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi persoalan, menghadirkan gagasan dan menjalankan aksi nyata.
“Ngopeni berarti merawat, nglakoni berarti tidak berhenti pada wacana, dan bareng berarti kita bekerja bersama. Pemerintah menguatkan, organisasi dan komunitas menggerakkan, masyarakat merasakan manfaatnya,” demikian pesan yang dibawa dalam materi.
Melalui semangat tersebut, Kesbangpol Jawa Tengah membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan kampus dan aktivis mahasiswa untuk mengembangkan berbagai inisiatif sosial, kepemudaan, kebangsaan, pemberdayaan masyarakat, literasi digital, pencegahan narkotika, penguatan organisasi, hingga kegiatan yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Rahmad menegaskan bahwa kolaborasi tersebut tidak harus dimulai dari program besar. Satu persoalan yang ditemukan, satu data yang dikumpulkan, satu komunitas yang digerakkan dan satu aksi yang dilakukan dapat menjadi awal perubahan.
“Mahasiswa jangan pulang dari pelatihan hanya membawa catatan. Pulanglah membawa satu aksi. Mari kita bangun kolaborasi antara Kesbangpol, kampus dan aktivis melalui NGOLABOR. Karena perubahan yang kuat bukan lahir dari satu pihak, tetapi dari kemampuan kita untuk bergerak bersama,” ujarnya.
Melalui kolaborasi “NGOLABOR bersama Kampus dan Aktivis”, Kesbangpol Jawa Tengah berharap kampus tidak hanya menjadi ruang pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya gagasan, kepemimpinan, kepedulian sosial dan gerakan mahasiswa yang konstruktif bagi Jawa Tengah.