Suasana Gedung B3 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang pada Sabtu pagi, 23 Mei 2026 tampak berbeda. Ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) berkumpul mengikuti kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP Unwahas selama dua hari, 23–24 Mei 2026.
Mengusung tema “Viveka Nayaka: Mengukir Eksistensi Mahasiswa Melalui Manajerial Organisasi yang Bermartabat”, kegiatan ini menjadi ruang belajar kepemimpinan sekaligus refleksi bagi mahasiswa tentang bagaimana organisasi bukan hanya tempat berkegiatan, tetapi tempat membentuk karakter dan masa depan.
Kegiatan berlangsung hangat dan dinamis. Para peserta terlihat aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat, hingga terlibat dalam berbagai sesi interaktif bersama para narasumber dari kalangan aktivis mahasiswa, akademisi, hingga praktisi pemerintahan.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah penyampaian materi dari Winarto, Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya dan Organisasi Kemasyarakatan (Kabid Ketahanan Eksosbud dan Ormas) Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah yang hadir mewakili Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah dengan tema “Mindset Dasar Kepemimpinan.”
Dalam penyampaiannya, Winarto menegaskan bahwa hari ini perubahan dunia berada di tangan anak muda. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa hampir seluruh momentum perubahan besar selalu melibatkan keberanian generasi muda dalam membaca zaman dan bergerak bersama masyarakat.
Ia mencontohkan bagaimana gerakan mahasiswa dan anak muda di Nepal pernah menjadi kekuatan penting dalam mendorong perubahan sosial dan demokrasi. Sementara di Hongkong, dunia pernah menyaksikan gerakan Yellow Umbrella Movement atau Umbrella Movement, ketika ribuan anak muda turun ke jalan memperjuangkan aspirasi demokrasi dengan simbol payung kuning sebagai bentuk perlawanan damai. Gerakan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana generasi muda mampu memanfaatkan media sosial dan teknologi digital untuk membangun solidaritas, menyebarkan informasi, dan menggerakkan opini publik dunia.
Menurut Winarto, fenomena serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia lainnya. Anak muda kini menjadi aktor penting dalam isu lingkungan, demokrasi, kemanusiaan, hingga gerakan sosial global. Media sosial telah berubah menjadi alat gerakan perubahan yang sangat kuat.
“Dulu perubahan digerakkan lewat mimbar dan jalanan. Hari ini media sosial bisa menjadi alat gerakan yang sangat besar pengaruhnya,” ungkap Winarto di hadapan peserta.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi membawa tantangan baru bagi generasi muda. Media sosial tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga ruang pertarungan opini, identitas, dan kepentingan.
Mahasiswa diajak memahami fenomena bubble algoritma, ketika seseorang hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangan dan preferensinya sendiri. Kondisi tersebut dapat memicu polarisasi, mempersempit cara berpikir, hingga mempercepat penyebaran hoaks dan provokasi sosial.
Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi generasi muda. AI mampu membantu inovasi dan produktivitas, namun di sisi lain dapat memunculkan budaya instan, ketergantungan teknologi, bahkan krisis etika apabila tidak disikapi dengan bijak.
Karena itu, mahasiswa dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital, integritas, dan empati sosial.
“Teknologi boleh berkembang cepat, tetapi nilai kemanusiaan tidak boleh hilang. Anak muda harus tetap punya arah, karakter, dan keberanian menjaga nilai,” tegasnya.
Materi kemudian berkembang membahas perbedaan mendasar antara pemimpin dan pengurus. Pengurus biasanya fokus menjalankan administrasi dan rutinitas organisasi, sedangkan pemimpin adalah sosok yang mampu menciptakan visi, menggerakkan orang lain, dan menghadirkan dampak nyata.
Peserta juga diajak berdiskusi tentang gaya kepemimpinan, mulai dari gaya otoriter, demokratis, hingga situasional yang harus disesuaikan dengan kondisi organisasi. Suasana diskusi berlangsung cair karena banyak peserta mengaitkan materi dengan pengalaman organisasi mereka sehari-hari.
Selain kepemimpinan, Winarto juga menekankan pentingnya integritas, tanggung jawab, dan empati sebagai fondasi utama pemimpin muda. Dalam era digital yang serba terbuka, jejak digital dan sikap seseorang menjadi bagian dari kualitas kepemimpinan.
“Pemimpin bukan soal paling terkenal, tetapi siapa yang paling siap memikul tanggung jawab,” menjadi salah satu kalimat yang mendapat respons dari peserta.
Tidak hanya menghadirkan materi dari Kesbangpol Jawa Tengah, kegiatan LKMM-TD ini juga menghadirkan sejumlah narasumber lainnya, di antaranya:
Fajri Hermansyah, Ketua Rayon FISIP PMII Universitas Wahid Hasyim Semarang;
Asrof Farouq Ahmad Farizzi, Ketua DPM Unwahas dan Sekretaris LP2MI Jawa Tengah;
Wahyu Arif Raharjo, S.IP., M.I.R., Pengelola Kelas Internasional FISIP Unwahas dan Sekretaris UPM Unwahas;
Harun Niam, S.IP., M.Si., akademisi Ilmu Politik dan Hubungan Internasional FISIP Unwahas sekaligus pengurus LDNU PWNU Jawa Tengah.
Beragam perspektif dari para pemateri membuat suasana LKMM-TD terasa lebih hidup dan membumi. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami teori kepemimpinan, tetapi juga membaca tantangan zaman, perkembangan teknologi, hingga pentingnya menjaga nasionalisme dan nilai kebangsaan di tengah dunia yang terus berubah.
Di akhir sesi, para peserta tampak masih bertahan berdiskusi bersama narasumber. Sebagian melanjutkan obrolan tentang organisasi, keresahan generasi muda, hingga masa depan kepemimpinan Indonesia.
Kegiatan LKMM-TD ini menjadi pengingat bahwa organisasi mahasiswa bukan sekadar tempat mencari pengalaman atau popularitas, tetapi ruang penting untuk membentuk karakter, melatih keberanian, dan menyiapkan pemimpin masa depan bangsa.